Before I pour my thoughts here, I think it’s a mandatory (for myself, actually) to give you an intermezzo. Firstly first, I’m not good at editing... things, so you may notice that most of your mensive-gift is my very own words. I deliver my affection and love most of the time through words and I hope you won’t get bored or tired of it. Our love language is maybe different, yes, but I believe our amount of love is the same. And actually, these days I’m kind of missing you more than usual — I know you are busy with your works, and I won’t complain about it, but I just miss you. Terus, nggak tau sih kakak akan notice atau enggak, sebenernya kadang karena terlalu kangen jadi sedih sendiri akunya (nggak sedih banget kok...) tapi gapapa sih, I can handle it myself. Jadi kalau kakak ngerasa kadang aku tiba-tiba keliatan loyo... atau nggak semangat... yah itu sebenernya aku lagi lakuin hal lain biar punya kesibukan dan nggak ganggu kakak terus, meski aku tau jawaban kakak pasti "kamu nggak ganggu". Tapi ya, you know what I mean lah. Aku nggak mau ganggu waktu kakak kerja — tapi jujur, sebenernya setiap hari aku kangen kakak. Cuma rasanya kalau aku bilang kangen terus kayak... mmmmm... kok aku kangen terus, ya? Maaf kalau bnuuy satu ini kangenan dan kalau kangen suka rewel dulu. Semoga meski kakak sedang kerja pun, kakak juga kangen aku, ya. Oh iya, mungkin hadiahnya nggak seberapa, tapi semoga hadiah ini (dan hadiah sebelumnya) selalu bisa kakak baca kalau kakak sedang capek atau kangen aku. ₍^. .^₎⟆