I'm putting some of the quotes I got on this list from a book titled; Berani Melambat Saat Dunia Serba Cepat (or in English "Couraging Yourself to Slow Down While The World Gets Fast") by Tara Damaya, an Indonesian author and a mom. It's gonna be long tho :)
- "Era digital membuat banyak orang merasa dituntut untuk segera memperoleh pencapaian, baik kesuksesan secara materi dan finansial, karier yang bagus, hingga status sosial. Desakan ekonomi dan perilaku pamer di media sosial seakan-akan mendorong orang untuk bekerja lebih produktif lagi agar mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi. Tentu hal ini membuat kebanyakan orang menjadi tak sempat memikirkan tentang apa yang sebenarnya ingin dilakukan." Page 9
- "Berdasarkan hasil survei Hardvard Business School, ada sekitar 94% profesional yang bekerja lebih dari 50 jam/minggu. Sepertiga pekerja industri kreatif memiliki jam kerja lebih dari 48 jam/minggu. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa banyak kaum pekerja yang seakan tak memiliki pilihan lain selain menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja." Page 10, Part 1
- "Menyoroti kehidupan pekerja pabrik, ada banyak orang yang terpaksa menghabiskan siang dan malam di dalam pabrik yang tentu berisi pegawai yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Mereka tetap bertahan dengan sistem kerja tersebut karena faktor ekonomi. Sebab, jika tidak bekerja, mereka tentu tak punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang serba mahal sampai gaya hidup yang mereka impikan." Page 10, Part 2
- "Segala sesuatu yang cepat tak selalu baik. Berpikir dengan dengan cepat kerap kali berfokus pada hasil. Namun, saat kita perlambat lajunya, maka kita juga akan melihat bagaimana suatu proses berjalan hingga mencapai hasil." Page 11
- "Manusia dan prasangka memiliki jarak yang amat dekat. Prasangka muncul dari pemikiran dan emosi manusia pada suatu hal yang belum tentu kebenarannya. Bagi kita, tentu lebih mudah berprasangka daripada harus repot-repot mencari bukti terlebih dahulu." Page 17
- "Kenangan buruk di masa lalu kerap kali menghantui. Masa depan yang masih penuh dengan pertanyaan pun tak jarang menjadi bayang-bayang yang mengusik pikiran. Keduanya kerap kali membuat manusia melupakan masa yang sedang dijalani, yakni masa kini." Page 34
- "Setiap manusia normal pasti memiliki persona. Sebab, persona ialah bagian dari diri manusia yang bisa disebut juga wajah sosial kita atau topeng yang sudah dirancang untuk memberikan kesan pada orang lain sekaligus menutupi sifat asli kita. Contoh dar persona adalah perilaku yang kita tunjukkan untuk menghargai orang lain misalnya dengan mengucapkan terimakasih, maaf, atau tolong, meskipun kita tidak besungguh-sungguh saat mengucapkannya." Page 43